Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi toleransi antar-agama dalam menjaga harmoni sosial serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Kota Kupang dalam perspektif Civil Sphere. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik toleransi di Kota Kupang terwujud melalui dialog antar-agama, keterlibatan aktif komunitas dalam perayaan keagamaan, serta tindakan simbolik yang mencerminkan solidaritas sosial. Dalam perspektif Jeffrey Alexander, Kota Kupang mencerminkan ruang sipil yang memungkinkan integrasi sosial melalui simbol-simbol yang membangun narasi kebersamaan. Sementara itu, dalam pandangan George Herbert Mead, makna toleransi terbentuk melalui interaksi sosial yang memungkinkan individu dari berbagai latar belakang agama menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan. Praktik seperti keterlibatan pemuda Kristen dalam membantu perayaan Idul Fitri dan partisipasi umat Muslim dalam menghias pohon Natal menjadi contoh nyata bagaimana simbol dan interaksi sosial memperkuat kohesi masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa harmoni dalam keberagaman tidak terjadi secara alami, melainkan merupakan hasil dari upaya kolektif berbagai pihak dalam membangun ruang publik yang inklusif dan toleran. Kata Kunci: Toleransi Antar-agama, Civil Sphere, Interaksi Simbolik, Simbol Keagamaan.
Copyrights © 2025