Penelitian ini mengkaji peran BAPPELITBANGDA dalam transformasi Benteng Oranje, Ternate, dari situs bersejarah yang disfungsi menjadi ruang publik yang dinamis. Permasalahan utamanya adalah peluberan fungsi oleh aktivitas militer dan pedagang kaki lima yang mengaburkan nilai historis benteng. Tujuan penelitian adalah menganalisis konsep perencanaan, tata ruang, dan kebijakan daerah yang diterapkan BAPPELITBANGDA untuk merevitalisasi benteng. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pejabat BAPPELITBANGDA, BPCB, komunitas, dan analisis dokumen seperti RTRW Kota Ternate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAPPELITBANGDA berhasil mengoordinasikan konsep perencanaan berbasis kebermanfaatan dan keberlanjutan. Implementasi strategi "3P" (Perlindungan, Pelestarian, Pemanfaatan) sejalan dengan dimensi perencanaan Friedmann, menciptakan peluang ekonomi bagi UMKM dan menguatkan identitas budaya. Peraturan Daerah RTRW menjadi fondasi legal yang krusial. Transformasi ini menegaskan peran vital administrasi daerah dalam pengelolaan cagar budaya dan pengembangan ruang publik berkelanjutan.
Copyrights © 2025