Abstrak—Penelitian sosiolinguistik ini bertujuan untuk mengenali, mengelompokkan, dan menganalisis secara rinci fenomena campur kode yang terjadi dalam komunikasi para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Kelas A-2 Angkatan 2024 di Universitas Lambung Mangkurat. Dinamika bahasa dalam kelompok terpelajar ini diamati melalui dua jenis interaksi utama, yaitu interaksi langsung (luring) dan percakapan digital yang terdapat di media sosial WhatsApp. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana bahasa daerah (Banjar) dan bahasa asing (Inggris) memengaruhi dan terintegrasi ke dalam bahasa utama yang digunakan, yaitu Bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan untuk interaksi langsung dan dokumentasi dengan cara menangkap layar untuk percakapan di WhatsApp. Seluruh data tuturan yang memiliki unsur campur kode kemudian dianalisis berdasarkan teori sosiolinguistik, diklasifikasikan menjadi dua kategori: Campur Kode Kedalam yang berasal dari bahasa daerah atau asli, dan Campur Kode Keluar yang berasal dari bahasa asing. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 12 contoh campur kode yang ditemukan, pola komunikasi mahasiswa didominasi oleh Campur Kode Kedalam dengan total tujuh (7) temuan dan Campur Kode Keluar tercatat sebanyak lima (5) temuan. Temuan yang menarik adalah munculnya campur kode yang melibatkan tiga jenis kode sekaligus (Indonesia-Banjar-Inggris) dalam satu kalimat berupa percakapan di WhatsApp, yang mencerminkan tingkat kompleksitas dan fleksibilitas bahasa di era digital. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa faktor regional, yaitu Bahasa Banjar, adalah hal yang paling berpengaruh dalam membentuk perilaku campur kode mahasiswa, meskipun pengaruh global juga memberikan kontribusi signifikan dalam mengubah kompleksitas percampuran kode
Copyrights © 2025