Penelitian ini mengkaji dinamika Persatuan Islam (Persis) sebagai gerakan sosial-keagamaan modernis yang bertahan lebih dari satu abad melalui dialektika antara resistensi dan adaptasi. Dari aspek teologis, resistensi Persis diwujudkan melalui kritik terhadap praktik keagamaan tradisional seperti tahlilan dan ziarah kubur berlebihan yang dianggap menyimpang dari prinsip tauhid murni. Pada ranah sosial-politik, Persis menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan kolonial maupun negara yang dipandang mengancam kebebasan beragama dan nilai keadilan sosial. Sementara itu, bentuk adaptasi Persis tampak dalam pendirian lembaga pendidikan modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum, pemanfaatan media cetak maupun digital sebagai instrumen dakwah, serta keterbukaan terhadap isu-isu global kontemporer seperti demokrasi, hak asasi manusia, gender, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka maqasid al-shari‘ah. Temuan ini menunjukkan bahwa resistensi berfungsi menjaga prinsip purifikatif Persis, sedangkan adaptasi berperan memastikan relevansi dakwah dalam konteks sosial yang terus berubah. Dengan sinergi keduanya, Persis mampu mempertahankan eksistensinya sebagai gerakan Islam modernis yang konsisten pada misi purifikasi, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman. Kata Kunci: Persatuan Islam, resistensi, adaptasi, purifikasi, gerakan sosial, maqasid al-shari‘ah.
Copyrights © 2025