Pelestarian alat musik tradisional Sasando di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Sasando sebagai simbol identitas budaya melalui pendekatan integratif yang menggabungkan teori strukturalisme Lévi-Strauss, fungsionalisme Malinowski, dan teori evolusi budaya White. Temuan menunjukkan bahwa Sasando memiliki struktur simbolik yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam, serta fungsi sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan transmisi nilai budaya. Inovasi teknologi, seperti pengembangan Sasando elektrik, memperlihatkan transformasi yang mendukung kelestarian instrumen ini tanpa mengurangi nilai tradisionalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun minat generasi muda terhadap Sasando rendah, ada peluang untuk memperkenalkan inovasi yang relevan dengan perkembangan musik kontemporer. Pelestarian Sasando memerlukan pendekatan yang mencakup pelatihan budaya, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, serta penghormatan terhadap prinsip tradisional dan inovasi kreatif.
Copyrights © 2025