Urbanisasi yang pesat di Indonesia menuntut penyediaan infrastruktur air (air minum, drainase, dan air limbah) yang memadai, namun perencanaan infrastruktur seringkali bersifat reaktif terhadap pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan kebutuhan infrastruktur air minum, drainase, dan air limbah sebagai instrumen strategis untuk perencanaan pembangunan wilayah. Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan pada 10 sampel kabupaten/kota di Indonesia (termasuk DKI Jakarta, Surabaya, Balikpapan, dan Batam). Proyeksi kebutuhan dihitung untuk horizon waktu 5, 10, dan 20 tahun (2030, 2035, 2045) menggunakan metode proyeksi penduduk (geometrik) dan standar teknis (SNI, Metode Rasional). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kebutuhan infrastruktur yang substansial di semua lokasi studi. Laju pertumbuhan persentase tertinggi diproyeksikan terjadi di Batam dan Balikpapan, sementara volume kebutuhan absolut terbesar tetap berada di DKI Jakarta. Analisis mengidentifikasi tiga tantangan utama: (1) skala investasi finansial yang masif; (2) keterbatasan ketersediaan sumber daya (air baku dan lahan); dan (3) tekanan ganda dari alih fungsi lahan dan dampak perubahan iklim. Studi ini menyimpulkan bahwa proyeksi kebutuhan infrastruktur tidak boleh hanya menjadi output teknis. Proyeksi ini harus berfungsi sebagai instrumen input strategis dan pengendali dalam perencanaan tata ruang (RTRW), mendorong pergeseran paradigma dari reaktif menjadi proaktif (perencanaan berbasis kapasitas).
Copyrights © 2025