Penelitian ini mengevaluasi potensi antibakteri fraksi ekstrak teripang pasir (Holothuria scabra) asal perairan Sumbawa terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Senyawa bioaktif diisolasi melalui ekstraksi bertingkat menggunakan heksana, etil asetat, etanol, butanol, aseton, dan air. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram, dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditetapkan untuk fraksi yang paling aktif. Hasil menunjukkan variasi aktivitas yang bergantung pada jenis pelarut. Terhadap E. coli, fraksi butanol memberikan hambatan paling kuat dan konsisten (21,75–24,5 mm), mendekati kontrol positif, diikuti fraksi etil asetat dan etanol yang menunjukkan aktivitas sedang namun bervariasi (10,5–24,75 mm). Fraksi non-polar seperti heksana hanya menghasilkan hambatan lemah (4,5–5,5 mm), sementara fraksi air dan aseton memberikan efek minimal. Sebaliknya, S. aureus jauh lebih sensitif. Fraksi etanol menghasilkan zona hambat 34,75 mm, setara dengan kontrol positif, sedangkan fraksi butanol (26,95 mm) dan etil asetat (27–29 mm) juga menunjukkan aktivitas kuat. Fraksi heksana, air, dan aseton tetap berada pada kategori lemah. Secara keseluruhan, potensi antibakteri meningkat seiring meningkatnya polaritas pelarut, menegaskan bahwa senyawa aktif utama teripang pasir—seperti saponin, sterol, dan lipid polar—terkonsentrasi pada fraksi polar dan semi-polar. Temuan ini memperkuat bahwa Holothuria scabra memiliki potensi kuat sebagai sumber alami agen antimikroba, terutama terhadap bakteri Gram positif.
Copyrights © 2025