Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang belajar menggunakan model Problem Based Learning (PBL) berbasis teknologi digital dan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental tipe pretest–posttest control group. Sampel penelitian terdiri dari 32 siswa kelas eksperimen dan 33 siswa kelas kontrol yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa tes uraian kemampuan pemecahan masalah yang telah divalidasi dan memiliki reliabilitas tinggi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan Independent Sample t-test terhadap skor N-Gain setelah data memenuhi syarat homogenitas varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor N-Gain siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (0.606 > 0.412), dan uji t menunjukkan perbedaan peningkatan yang signifikan antara kedua kelompok (t = 3.587, p < .001). Nilai effect size sebesar 0.890 menunjukkan pengaruh yang besar dan bermakna secara praktis terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa. Dengan demikian, model PBL berbasis teknologi digital dinilai efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran pada materi matematika yang membutuhkan visualisasi dan proses berpikir tingkat tinggi.
Copyrights © 2025