Artikel ini membahas krisis pangan dan kerentanan desa-desa sawah di Demak pada periode 1840–1900, dengan fokus pada dampak sosial-ekonomi terhadap masyarakat pedesaan. Penelitian ini menggunakan metode sejarah Louis Gottschalk, yang meliputi pengumpulan sumber primer dari surat kabar kolonial dan dokumen administrasi kolonial, kritik sumber untuk menilai keakuratan dan bias, interpretasi, serta historiografi untuk menafsirkan hubungan sebab-akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi faktor alam, seperti kekeringan dan hama, serta kebijakan kolonial terkait pajak dan tanam paksa, menimbulkan kerentanan pangan yang signifikan di desa-desa sawah. Masyarakat pedesaan merespons dengan strategi adaptasi, termasuk penanaman komoditas alternatif, gotong royong, dan migrasi sementara. Studi ini menegaskan bahwa krisis pangan tidak hanya berdampak pada produksi pertanian, tetapi juga mempengaruhi struktur sosial, ekonomi, dan pola kehidupan masyarakat desa. Pendekatan historiografis Gottschalk memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi antara kebijakan kolonial, faktor alam, dan ketahanan masyarakat pedesaan, sekaligus menyoroti perlunya analisis kritis terhadap sumber kolonial.
Copyrights © 2025