Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang membutuhkan perhatian serius, terutama karena keberhasilan terapinya sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT). Ketidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan pengobatan tidak tuntas, meningkatkan risiko kekambuhan, resistensi obat, serta memperpanjang masa penularan. Puskesmas Krobokan Kota Semarang merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang mengalami peningkatan kasus TBC pada tahun 2022, sehingga diperlukan evaluasi terhadap perilaku kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepatuhan minum OAT pada pasien TBC serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kepatuhan pasien. Penelitian dilakukan selama dua bulan menggunakan desain deskriptif dengan teknik purposive sampling terhadap 31 pasien TBC yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Data dianalisis melalui tahapan editing, coding, scoring, tabulating, kemudian diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 6 pasien (19%) memiliki kepatuhan tinggi, 9 pasien (29%) memiliki kepatuhan sedang, dan sebagian besar yaitu 16 pasien (52%) memiliki kepatuhan rendah. Faktor yang diduga berpengaruh terhadap rendahnya kepatuhan antara lain usia produktif yang memiliki aktivitas tinggi, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, serta persepsi pasien terhadap efek obat ketika gejala mulai membaik. Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi edukasi dan pendampingan berkelanjutan agar keberhasilan pengobatan TBC dapat tercapai secara optimal.
Copyrights © 2025