Penelitian American College Health Association (ACHA) mengungkapkan bahwa 30% mahasiswa mengalami kecemasan tinggi akibat hilangnya motivasi serta tekanan akademik dan sosial, yang dapat mendorong perilaku berisiko seperti merokok. Faktor psikologis, termasuk kepribadian, juga berperan dalam membentuk perilaku kesehatan. Gibbons dkk. menyatakan bahwa individu dengan tingkat neuroticism tinggi cenderung merokok sebagai cara mengatasi stres. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara neuroticism dan frekuensi merokok pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 150 mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar sebagai partisipan. Instrumen yang digunakan meliputi skala neuroticism dari NEO-FFI (Neo Five Factor Inventory) versi singkat yang dikembangkan oleh Costa dan McCrae, terdiri atas 12 aitem dengan reliabilitas sebesar 0,926, serta skala frekuensi merokok dari WHO. Uji hipotesis dilakukan menggunakan teknik korelasi Spearman Rank melalui bantuan perangkat lunak SPSS versi 26.00. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat neuroticism dengan frekuensi merokok (nilai signifikansi = 0,000; koefisien korelasi = 0,308). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dengan kecenderungan neuroticism yang tinggi memiliki kemungkinan lebih besar untuk merokok secara lebih sering. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengaruh kepribadian terhadap perilaku merokok. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai referensi bagi studi selanjutnya terkait hubungan antara karakteristik kepribadian dan perilaku berisiko pada generasi muda
Copyrights © 2025