Kepemimpinan pelayan menjadi salah satu isu penting dalam kehidupan bergereja, terutama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Artikel ini mengkaji Markus 10:35–45 guna menelusuri ajaran Yesus tentang kepemimpinan yang tidak berorientasi pada kekuasaan, tetapi pada kerendahan hati, pengorbanan, dan pelayanan yang tulus. Perikop ini menampilkan kontras antara ambisi para murid yang menginginkan posisi kehormatan dan tanggapan Yesus yang justru menekankan bahwa yang terbesar adalah yang bersedia menjadi pelayan. Melalui narasi ini, Yesus tidak hanya membentuk kembali pemahaman para murid-Nya, tetapi juga menantang gereja masa kini untuk meninggalkan paradigma kepemimpinan yang otoriter dan menggantinya dengan pola kepemimpinan yang melayani. Artikel ini memberikan kontribusi teologis dan praktis dalam membangun gaya kepemimpinan gerejawi yang kontekstual dan relevan, serta mendorong pemimpin-pemimpin gereja untuk mengikuti teladan Kristus dalam melakukan pelayanan yang ditujukan kepada banyak orang untuk melayani dan bukan untuk dilayani.
Copyrights © 2025