Learning Indonesian culture and Indonesia language for forigners (BIPA) is quite closely related. However, there have been many researches regarding cultural mastery of BIPA students in imaginative writing. By using literary anthropological method supported by Kroeber and Kluckhohn, this research aims to reveal Indonesian cultural images in imaginative writing of BIPA students in Sacred Heart Girls College and the connection between Indonesian cultural mastery and the complete of the story. The result shows the category of Indonesian culture in sixth imaginative writings, are normative behavior (“Berubah Menjadi Tikus” and “Sesuatu di Balik Bantal”), custom (“Burung Toti” dan “Lima Hari”), history on social heritage and tradition (“Blangkon”), psychology, arrangement (“Sesuatu di Balik Bantal”), and psychology, learning (“Terlewat Perjalanan dari Bantal”). Indonesian cultural mastery and the complete elements of story are interrelated. If culture footing is good, the story will be complete. The incompleteness of a story is seen from the unwell conveyed description, character, and culture shows their lack of understanding of Indonesian culture.AbstrakPemahaman budaya Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) cukup erat kaitannya. Akan tetapi, belum banyak penelitian tentang penguasaan budaya pemelajar BIPA dalam tulisan imajinatif. Dengan menggunakan metode antropologi sastra yang didukung oleh pendekatan budaya dari Kroeber dan Kluckhohn, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran budaya Indonesia dalam tulisan imajinatif pemelajar BIPA di Sacred Heart Girls College dan keterkaitan antara penguasaan budaya Indonesia dan kelengkapan unsur-unsur cerita. Hasil penelitian menggambarkan kategori budaya Indonesia dalam keenam cerita, yaitu perilaku normatif (“Berubah Menjadi Tikus” dan “Sesuatu di Balik Bantal”), kebiasaan (“Burung Toti” dan “Lima Hari”), sejarah pada warisan sosial dan tradisi (cerita “Blangkon”), psikologi, pengaturan (cerita “Sesuatu di Balik Bantal”), psikologi, dan pembelajaran (cerita “Terlewat Perjalanan dari Bantal”). Penguasaan budaya Indonesia dan kelengkapan unsur-unsur cerita saling terkait. Jika pijakan budaya tidak kuat, cerita yang disampaikan tidak utuh. Ketidaklengkapan cerita itu terlihat pada penyampaian latar tempat dan tokoh, serta budaya yang tidak detail sehingga menunjukkan kekurangpekaan budaya Indonesia.
Copyrights © 2018