Pidato merupakan salah satu alat komunikasi yang digunakan pejabat negara kepada publik, sehingga penggunaan diksinya sangat diperhatikan oleh pendengar dan mencerminkan kepribadiannya. Banyak pejabat saat ini menggunakan diksi yang terkesan kurang tepat, sehingga memberikan contoh yang buruk bagi publik. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji kesantunan berbahasa dan penggunaan gaya bahasa dalam pidato publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kesantunan berbahasa dan gaya bahasa dalam pidato Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi terhadap 20 teks pidato yang dikumpulkan dari berbagai acara resmi kenegaraan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pidato-pidato tersebut mengandung 60 contoh kesantunan berbahasa, yang diklasifikasikan menurut enam maksim Leech: kebijaksanaan, kemurahan hati, persetujuan, kerendahan hati, persetujuan, dan simpati. Selain itu, 45 contoh gaya bahasa retorika diidentifikasi, termasuk repetisi, metafora, antitesis, klimaks, hiperbola, litotes, paralelisme, dan eufemisme. Penggunaan strategi linguistik ini mencerminkan upaya retorika Gibran untuk membangun citra seorang pemimpin yang inklusif,beretika, dan komunikatif. Penerapan kesantunan tidak hanya menjaga etika komunikatif tetapi juga memperkuat kedekatan emosional antara pemimpin dan publik. Dengan demikian, pidato-pidato Gibran dapat menjadi modelkomunikasi publik yang santun dan efektif dalam konteks kenegaraan.
Copyrights © 2025