Kebebasan linguistik dalam masyarakat multikultural mendorong praktik bilingualisme dan multilingualisme, yang secara nyata terefleksi melalui fenomena alih kode dan campur kode dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan bentuk serta fungsi alih kode dan campur kode yang terjadi dalam film pendek “Arutala” Gontor. Film ini dipilih karena merepresentasikan interaksi kehidupan santri di lingkungan pesantren yang dikenal multilingul. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, studi ini mengidentifikasi dan mendokumentasikan variasi penggunaan bahasa dalam dialog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode dalam film “Arutala” Gontor adalah cerminan praktik bilingualisme di pesantren, yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi fungsional, tetapi juga berkontribusi pada ekspresi budaya dan pembentukan identitas keislaman para santri.
Copyrights © 2025