Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan rekomendasi WHO dan UNICEF untuk enam bulan pertama kehidupan bayi tanpa tambahan makanan atau minuman lain, diikuti dengan pemberian MP-ASI sambil tetap menyusui hingga usia dua tahun atau lebih. Namun, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih di bawah target nasional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6–12 bulan di Klinik Bersalin Sehati, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan sebanyak 42 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,040), pengetahuan (p=0,008), dan kepercayaan budaya (p=0,012) dengan pemberian ASI eksklusif. Status pekerjaan tidak menunjukkan hubungan signifikan (p=0,073), meskipun ibu rumah tangga lebih banyak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu bekerja. Temuan ini mengindikasikan pentingnya intervensi edukasi yang disesuaikan dengan tingkat literasi ibu serta pendekatan berbasis budaya untuk mengubah norma yang menghambat praktik ASI eksklusif. Diperlukan dukungan kebijakan dan fasilitas, termasuk konseling menyusui, ruang laktasi, dan pelibatan keluarga, untuk meningkatkan keberhasilan program ASI eksklusif di masyarakat.
Copyrights © 2025