Pendidikan berperan penting dalam proses pembentukan karakter siswa, terutama ketika terjadi krisis moral generasi muda saat ini. Sebuah solusi yang bisa diterapkan yaitu dengan pelaksanaan religious culture. Religious culture bermakna pembiasaan berbagai nilai religius guna memunculkan akhlak mulia siswa. MI Al-Aziziyah Bangsal Mojokerto telah menerapkan strategi ini guna membekali siswa dengan kebiasaan positif dan karakter yang kuat. Pendekatan kualitatif deskriptif dijadikan sebagai metode penelitian dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Observasi dilakukan untuk melihat langsung implementasi religious culture dan wawancara dengan kepala sekolah untuk menggali informasi lebih mendalam. Seluruh perolehan data dianalisis dengan model interaktif menurut Miles & Huberman. MI Al-Aziziyah Bangsal Mojokerto menerapkan religious culture sebagai upaya membentuk karakter siswa melalui berbagai kegiatan, mencakup salat dhuha berjamaah, membaca Al-Qur’an, doa bersama, istighotsah, tahlil, hingga kultum. Program ini bukan sekadar rutinitas, namun ditanamkan menjadi pembiasaan agar nilai religius dapat melekat dalam ke keseharian siswa. Kepala sekolah menekankan bahwa tolok ukur keberhasilan bukan hanya berasal dari kecerdasan intelektual, melainkan dari akhlak yang baik. Penerapan religious culture ini sejalan dengan teori pendidikan Islam yang mencakup ta’lim, ta’dib, dan tarbiyah yang menekankan pembelajaran ilmu, pembiasaan perilaku, serta pembinaan moral dan emosional.
Copyrights © 2024