Penetapan Telaga Ngebel sebagai Kawasan wisata atas usulan masyarakat lokal mengindikasikan pengembangan Community Based Tourism (CBT). Namun, keberhasilan CBT sangat bergatung pada kekuatan modal sosial yang menopang partisipasi dan kolaborasi antara stakeholders. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi modal sosial dalam pengembangan CBT terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Kebaruan penelitian ini terletak pada kontruksi dan pemetaan kerangka relasional antara dimensi modal sosial (jaringan, kepercayaan, norma) dan praktik CBT Multi-Aktor yang berorientasi pada kesejeahteraan sebagai outcome Multidimensi (Sosial, Ekonomi, Budaya). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 informan yang dipilih secara purposive sampling (4 dari pemerintah, 5 dari paguyuban, 3 dari komunitas lokal), observasi non-partisipasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, jaringan sosial terbentuk melalui kolaborasi antar instansi pemerintah, masyarakat, Pokdarwis, dan paguyuban-paguyuban. Kedua, kepercayaan diwujudkan dalam bentuk hubungan interkasi sosial dan solidaritas sosial antara masyarakat dan pemerintah. Ketiga, norma sosial menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan sosial, ekonomi, dan budaya. Keempat, sinergi modal sosial meningkatkan kesejahteraan melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekonomi, solidaritas sosial, dan pelestarian budaya lokal seperti “Larungan”. Implikasi penelitian ini merupakan konstruksi dan operasionalisasi kerangka relasional modal sosial dan CBT yang mendukung kesejahteraan masyarakat, sehingga dapat menjadi panduan praktis para stakeholders dalam pemetaan relasional untuk pengembangan progam kesejahteraan sosial berbasis komunitas dan kearifan lokal.
Copyrights © 2025