Pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat merupakan faktor penting dalam pengelolaan obat. Ketidaklancaran pengelolaan obat dapat memberi dampak negatif terhadap rumah sakit. Dampak pengadaan, penyimpanan, dan distribusi yang tidak optimal mengakibatkan terjadinya kekosongan obat yang mempengaruhi pada pelayanan terhadap pasien dan stok obat yang melewati masa kadaluwarsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan obat pada tahap pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat di Instalasi Farmasi RSUD I.A.Moeis Samarinda sesuai dengan indikator WHO, Pudjaningsih dan Kemenkes. Pengambilan data dengan observasi mengamati langsung kepada subjek penelitian dengan menggunakan lembar indikator pengelolaan obat, telaah dokumen tahun 2024 dan melakukan wawancara kepada kepala instalasi farmasi. Hasil penelitian pada tahap pengadaan yaitu persentase frekuensi kesalahan faktur sebesar 0% dan pada tahap penyimpanan yaitu persentase kecocokan antara obat dengan kartu stok sebesar 100%, persentase nilai obat kadaluwarsa sebesar 0,7%, persentase stok mati sebesar 1,74%, pada tahap distribusi yaitu persentase obat yang diserahkan 100%, persentase obat yang dilabeli benar sebesar 100%, rata-rata waktu tunggu pasien untuk resep obat non racikan sebesar 15 menit dan untuk resep obat racikan sebesar 27 menit.
Copyrights © 2025