Fenomena politik Indonesia pada Agustus–September 2025 menandai bagaimana bahasa politik dapat bertransformasi menjadi pemicu aksi sosial yang luas. Penelitian ini menganalisis ucapan kontroversial Ahmad Sahroni yang menyebut pihak pendukung pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”. Ucapan tersebut memicu gelombang demonstrasi nasional, kerusuhan, hingga delegitimasi politik personal maupun institusional. Dengan menggunakan kerangka Critical Discourse Analysis (CDA) Fairclough, penelitian ini menelaah dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosial dalam kasus Sahroni. Temuan menunjukkan bahwa bahasa provokatif tidak hanya merepresentasikan posisi ideologis elit, tetapi juga membentuk wacana media, memengaruhi interpretasi publik, dan mendorong mobilisasi sosial yang nyata. Artikel ini menegaskan pentingnya literasi kritis dalam memahami komunikasi politik di era demokrasi kontemporer Indonesia.
Copyrights © 2025