Penelitian ini mengkaji rekontekstualisasi bahasa dan pelaporan dalam era elektrasi melalui perspektif humanisme dan ilmu sosial post-strukturalis. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan Critical Discourse Analysis (CDA), penelitian menganalisis 54 sumber ilmiah terkait transformasi bahasa digital, pelaporan, identitas, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrasi merupakan fenomena multidimensi yang mengubah bahasa dari linearitas tekstual menjadi multimodal, pelaporan dari dokumentatif menjadi performatif, dan identitas subjek menjadi konstruksi wacana dinamis yang bergantung pada visibilitas digital serta interaksi algoritmik. Elektrasi membuka peluang bagi humanisme digital melalui ekspresi kreatif, partisipasi sosial, dan otonomi subjek, namun juga menimbulkan tantangan etis, termasuk dehumanisasi, komodifikasi perhatian, dan tekanan psikologis akibat tuntutan hipervisibilitas. Fenomena ini menuntut pembacaan kritis terhadap relasi kuasa, produksi makna, dan konstruksi identitas dalam ekosistem digital. Selain itu, elektrasi memengaruhi lanskap sosial secara kolektif, menggeser otoritas pengetahuan dari institusi formal ke jaringan afektif dan algoritmik. Dengan refleksi kritis, praktik pelaporan digital dapat diarahkan untuk memperkuat martabat manusia, membangun narasi inklusif, dan menghasilkan makna yang humanis serta etis, sekaligus menghindarkan subjek digital dari reduksi menjadi objek algoritmik.
Copyrights © 2025