Artikel ini mengkaji proses akulturasi antara budaya Belanda dan Indonesia melalui bidang kuliner, dengan semur sebagai contoh utama hasil perpaduan dua tradisi. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis sumber sekunder seperti jurnal, buku, dan publikasi ilmiah. Kajian menunjukkan bahwa masa kolonial Belanda (1602–1949) tidak hanya mempengaruhi bidang politik dan ekonomi, tetapi juga membawa perubahan dalam kebiasaan makan masyarakat Nusantara. Interaksi antara juru masak pribumi dan keluarga kolonial melahirkan adaptasi kuliner yang memadukan teknik Eropa dengan rempah dan bahan lokal. Hidangan smoor vlees kemudian berevolusi menjadi semur melalui penggunaan kecap manis, minyak kelapa, dan bumbu khas Indonesia. Kini, semur tidak hanya menjadi makanan rakyat, tetapi juga simbol keberhasilan masyarakat Indonesia dalam menyerap dan memodifikasi pengaruh asing menjadi bagian dari identitas gastronomi nasional.
Copyrights © 2025