Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi guru perempuan dalam pemberitaan media daring terkait kematian Melani Miryam Wamea di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Peristiwa tersebut memperoleh perhatian luas media dan memunculkan beragam narasi mengenai konflik, keamanan, serta pengabdian guru di wilayah dengan situasi sosial yang rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Wacana Kritis perspektif Sara Mills, yang menitikberatkan pada penelusuran posisi subjek dan objek dalam teks serta konstruksi posisi pembaca. Data penelitian berupa sejumlah teks berita daring nasional dan lokal yang diterbitkan pada Oktober 2025 dan dianalisis melalui struktur narasi, pemilihan narasumber, serta penggunaan bahasa dalam pemberitaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cenderung menempatkan aparat negara dan pejabat publik sebagai subjek dominan dalam wacana, sementara guru perempuan direpresentasikan sebagai objek pemberitaan. Melani Miryam Wamea lebih banyak ditampilkan sebagai korban dan simbol pengabdian, tanpa ruang yang memadai bagi suara dan pengalaman personalnya. Selain itu, pembaca dikonstruksi untuk menerima narasi resmi dan merespons peristiwa secara simpatik. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberitaan media daring belum sepenuhnya menghadirkan perspektif yang berimbang dalam merepresentasikan guru perempuan dan konteks struktural di wilayah konflik.
Copyrights © 2026