Penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam fenomenologi parenting kasih sayang, khususnya pengalaman orang tua dalam mengembangkan komunikasi dan kemandirian anak Down Syndrome usia 7-10 tahun. Fenomena sikap overprotektif orang tua sering menghambat kemandirian anak, sehingga kajian ini mengeksplorasi pola asuh adaptif, strategi komunikasi verbal-nonverbal, serta implikasinya terhadap aspek kemandirian intelektual, ekonomi, sosial, dan emosional. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan purposive sampling terhadap tiga ibu (Ibu T, Ibu H, Ibu S), data dikumpul melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi interaksi sehari-hari di rumah dan komunitas, serta dokumentasi, dengan analisis menjaga etika kerahasiaan. Hasil menunjukkan pola komunikasi unik: Ibu T menekankan kejelasan dan pemusatan perhatian untuk hindari tantrum; Ibu H menggunakan pengulangan, gestur, dan penguatan positif; Ibu S mengandalkan bahasa isyarat (misalnya, tangan di bibir untuk "laki-laki", pegang perut untuk lapar) yang dikenali lingkungan sosial. Kemandirian anak maju di aspek intelektual (makan, berpakaian, buang air sendiri meski butuh pengawasan), ekonomi variatif (satu anak mandiri beli jajan), sosial aktif di lingkungan familiar tapi pemalu pada orang baru, serta emosional rentan tantrum yang diatasi kesabaran dan pengalihan. Respon anak seperti tindakan langsung atau simbol (jempol untuk "sip") jadi indikator pemahaman. Secara keseluruhan, keberhasilan bergantung pada adaptasi orang tua terhadap emosi anak dan kesabaran konsisten, dengan implikasi rekomendasi intervensi pelatihan parenting untuk komunikasi efektif dan kemandirian holistik.
Copyrights © 2026