Kebijakan Teaching Factory (TeFa) merupakan langkah strategis pemerintah dalam menyinergikan proses pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sehingga lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan pasar kerja masa kini. SMKN 13 Surabaya menjadi salah satu sekolah pelaksana kebijakan ini, khususnya pada kompetensi keahlian Teknik Permesinan, dengan tujuan mencetak lulusan yang profesional dan kompetitif di dunia kerja. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi kebijakan Teaching Factory menggunakan model implementasi kebijakan George C. Edward III, yang menitikberatkan pada empat dimensi utama, yakni komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, di mana data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru produktif, instruktur industri, serta siswa. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui proses kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Teaching Factory di SMKN 13 Surabaya berjalan cukup optimal. Komunikasi dan koordinasi antara sekolah dan industri berlangsung efektif, sumber daya manusia kompeten, dan struktur birokrasi mendukung melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). Meski demikian, peningkatan fasilitas praktik serta evaluasi berkelanjutan masih diperlukan agar implementasi Teaching Factory semakin efektif di masa mendatang.
Copyrights © 2025