Pergeseran paradigma pendidikan global dari pembelajaran berorientasi guru menuju pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered learning) sering kali terjebak pada reduksi metodologis dan mengabaikan dimensi etis serta relasional. Wacana kurikulum berbasis cinta muncul sebagai respons terhadap praktik pendidikan modern yang terlalu teknis dan kurang memperhatikan nilai kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pembelajaran berpusat pada peserta didik dalam hadis Nabi Muhammad saw., mengkaji konsep kurikulum berbasis cinta, serta merumuskan implikasi teoretik hadis terhadap pengembangan kerangka konseptual kurikulum tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) melalui teknik analisis isi (content analysis) dan analisis tematik terhadap literatur primer hadis serta karya pendidikan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan Rasulullah saw. secara substansial mencerminkan prinsip student centered approach melalui penghargaan terhadap keunikan individu, metode dialogis-partisipatif, dan pembelajaran kontekstual yang berbasis pada kebutuhan riil peserta didik. Nabi Muhammad saw. menempatkan cinta, kelembutan, dan keteladanan sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan motivasi intrinsik. Simpulannya, temuan ini berimplikasi pada perlunya desain kurikulum yang fleksibel, diferensiatif, dan disusun secara bertahap sesuai kesiapan kognitif serta psikologis peserta didik. Rekomendasi penelitian ini adalah pengintegrasian nilai-nilai rahmah (Cinta) dalam ekosistem pembelajaran guna menciptakan lingkungan pendidikan yang humanis dan seimbang antara dimensi duniawi serta ukhrawi.
Copyrights © 2025