Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, dipicu oleh gaya hidup modern, urbanisasi, dan pola makan tinggi kalori. Di Indonesia, prevalensi sindrom metabolik mencapai sekitar 21,66%, dengan tingkat tertinggi tercatat di daerah perkotaan seperti Jakarta. Hal ini menyoroti pentingnya deteksi dini status gizi dan komposisi tubuh sebagai langkah pencegahan strategis terhadap gangguan metabolik. Kegiatan pelayanan masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining komprehensif terhadap status gizi dan komposisi tubuh di kalangan dewasa di Kecamatan Jelambar, Jakarta Barat. Penilaian meliputi pengukuran Indeks Massa Tubuh (BMI), lingkar tubuh, ketebalan lipatan kulit, dan analisis komposisi tubuh menggunakan alat analisis komposisi tubuh. Sebanyak 46 peserta berusia 20–63 tahun secara sukarela mengikuti program ini. Rata-rata BMI adalah 24,24 ± 4,25 kg/m², diklasifikasikan sebagai normal hingga kelebihan berat badan, dengan rata-rata lingkar pinggang 80,79 ± 11,47 cm yang menunjukkan kecenderungan obesitas sentral. Perempuan menunjukkan persentase lemak subkutan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sementara laki-laki memiliki massa otot skeletal yang lebih besar. Variasi terkait usia menunjukkan penumpukan lemak yang meningkat dan penurunan massa otot secara bertahap selama masa dewasa tengah. Temuan ini menyoroti pentingnya pemantauan rutin status gizi dan komposisi tubuh sebagai pendekatan promotif-preventif untuk mengurangi risiko sindrom metabolik dan mendukung peningkatan kesehatan komunitas perkotaan.
Copyrights © 2025