Penelitian ini mengkaji peran perempuan sinden dalam pelestarian seni pertunjukan tradisional Banyumasan serta bagaimana representasi gender membentuk posisi, kuasa, dan agensi mereka di tengah struktur budaya patriarkal. Menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan 12 informan—termasuk sinden aktif, dalang, pelatih karawitan, dan pemerhati budaya—serta observasi partisipatif pada pertunjukan tradisional di Kabupaten Banyumas. Analisis tematik interpretatif berbasis model Miles dan Huberman diperkaya dengan teori gender dan representasi (Hall, Butler), teori agensi perempuan (Ortner, Giddens), serta teori performativitas dalam seni tradisi. Temuan menunjukkan bahwa sinden Banyumasan bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan agen budaya yang aktif menegosiasikan identitas, menggunakan strategi resistensi simbolik, dan beradaptasi dengan modernitas melalui media digital tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Meski menghadapi stereotip gender dan keterbatasan pengakuan institusional, sinden menunjukkan agensi kultural melalui improvisasi tembang, interaksi ekspresif dengan penonton, dan pembentukan komunitas solidaritas. Penelitian ini menawarkan pembacaan ulang terhadap posisi perempuan dalam seni tradisional, menegaskan bahwa tubuh dan suara sinden adalah medan wacana di mana kuasa, identitas, dan representasi terus dinegosiasikan. Kontribusi utama penelitian ini adalah memperkuat narasi lokalitas Banyumas dalam kajian gender dan seni pertunjukan, sekaligus memberi rekomendasi kebijakan untuk pelestarian budaya yang sensitif gender.
Copyrights © 2026