Maritza Hazna Mawardi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDIDIKAN CINTA TANAH AIR MELALUI KITAB KUNING DI PESANTREN ASWAJA AN-NAHDLIYAH PANEMBAHAN BANTERAN SUMBANG BANYUMAS Kholid Mawardi; Zein Muchamad Masykur; Maritza Hazna Mawardi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 4 No. 4 (2025): Juli 2025
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri, termasuk menanamkan nilai cinta tanah air. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran kitab At-Tahliyah wa Targhib fi Tarbiyah wa Tahdzib karya Syeikh Sayyid Muhammad dan Wasoya al-Aba li al-Abna karya Syeikh Muhammad Syakir di Pondok Pesantren Aswaja An-Nahdliyah Panembahan Banteran Sumbang Banyumas dapat berkontribusi dalam internalisasi nilai kebangsaan di kalangan santri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kitab kuning ini mampu menanamkan nilai nasionalisme melalui metode pengajaran berbasis keteladanan, pembiasaan, dan diskusi yang dikontekstualisasikan dengan sejarah bangsa. Selain itu, kitab-kitab ini mengajarkan konsep disiplin, tanggung jawab, serta loyalitas terhadap negara yang selaras dengan ajaran Islam. Dengan demikian, pesantren dapat mengoptimalkan pembelajaran kitab kuning sebagai media pendidikan karakter kebangsaan dalam menghadapi tantangan globalisasi
PEMBELAJARAN SEJARAH ISLAM DENGAN METODE BANDONGAN DI PONDOK PESANTREN ASWAJA AN-NAHDLIYAH PANEMBAHAN BANTERAN SUMBANG BANYUMAS Kholid Mawardi; Zein Muchamad Masykur; Maritza Hazna Mawardi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 4 No. 3: Mei 2025
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan metode bandongan dalam pembelajaran sejarah Islam di Pondok Pesantren Aswaja An-Nahdliyah Panembahan Banteran Sumbang Banyumas. Metode bandongan, sebagai pendekatan tradisional pesantren, dianalisis dari segi efektivitasnya dalam menyampaikan materi sejarah Islam, membentuk pemahaman historis, dan menanamkan nilai-nilai keislaman kepada santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka, melibatkan kyai dan santri sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bandongan efektif dalam mentransmisikan pengetahuan sejarah dan nilai-nilai spiritual, dengan peran sentral kyai sebagai penafsir dan penghubung konteks historis dengan kehidupan kontemporer. Namun, tantangan seperti sifat satu arah dan kurangnya partisipasi aktif santri menunjukkan perlunya adaptasi metode agar relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran sejarah Islam yang berbasis tradisi namun responsif terhadap dinamika zaman
KUASA SUARA PEREMPUAN: NEGOSIASI WACANA DAN AGENSI SINDEN BANYUMASAN DALAM SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL Kholid Mawardi; Inten Mustika Kusumaningtias; Bayu Hizbulloh Ibnu Mubarok; Maritza Hazna Mawardi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran perempuan sinden dalam pelestarian seni pertunjukan tradisional Banyumasan serta bagaimana representasi gender membentuk posisi, kuasa, dan agensi mereka di tengah struktur budaya patriarkal. Menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan 12 informan—termasuk sinden aktif, dalang, pelatih karawitan, dan pemerhati budaya—serta observasi partisipatif pada pertunjukan tradisional di Kabupaten Banyumas. Analisis tematik interpretatif berbasis model Miles dan Huberman diperkaya dengan teori gender dan representasi (Hall, Butler), teori agensi perempuan (Ortner, Giddens), serta teori performativitas dalam seni tradisi. Temuan menunjukkan bahwa sinden Banyumasan bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan agen budaya yang aktif menegosiasikan identitas, menggunakan strategi resistensi simbolik, dan beradaptasi dengan modernitas melalui media digital tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal. Meski menghadapi stereotip gender dan keterbatasan pengakuan institusional, sinden menunjukkan agensi kultural melalui improvisasi tembang, interaksi ekspresif dengan penonton, dan pembentukan komunitas solidaritas. Penelitian ini menawarkan pembacaan ulang terhadap posisi perempuan dalam seni tradisional, menegaskan bahwa tubuh dan suara sinden adalah medan wacana di mana kuasa, identitas, dan representasi terus dinegosiasikan. Kontribusi utama penelitian ini adalah memperkuat narasi lokalitas Banyumas dalam kajian gender dan seni pertunjukan, sekaligus memberi rekomendasi kebijakan untuk pelestarian budaya yang sensitif gender.