Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tindak tutur dalam upacara Marhata Sinamot masyarakat Batak Toba dengan menggunakan perspektif filsafat bahasa, khususnya teori tindak tutur John L. Austin dan John R. Searle. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif–interpretatif dengan metode etnografi komunikasi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, perekaman audio-video, dan dokumentasi naskah adat terhadap sepuluh informan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara Marhata Sinamot di Kabupaten Samosir. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 56 data tindak tutur yang diklasifikasikan menjadi 30 lokusi, 15 ilokusi, dan 11 perlokusi. Tindak tutur lokusi mendominasi karena berfungsi menyampaikan makna adat dan menjelaskan struktur upacara, sementara ilokusi memiliki daya performatif yang menciptakan tindakan sosial seperti penetapan sinamot dan pemberian restu. Perlokusi menimbulkan efek sosial berupa rasa damai, penerimaan, dan solidaritas. Temuan ini memperkuat teori Austin dan Searle bahwa bahasa dapat menciptakan realitas sosial melalui ujaran yang memenuhi syarat kebahagiaan (felicity conditions). Dengan demikian, Marhata Sinamot menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai tindakan sosial, sarana legitimasi adat, serta media pewarisan nilai budaya Batak Toba.
Copyrights © 2025