Pembelajaran abad ke-21 menuntut pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, metakognisi, serta sikap belajar mandiri dan reflektif. Salah satu pendekatan yang relevan untuk mewujudkan pembelajaran bermakna adalah melalui penguatan budaya berpikir (culture of thinking) di kelas. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis peran budaya berpikir dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna melalui pendekatan studi literatur. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kepustakaan, dengan sumber data berupa buku teks, artikel jurnal nasional dan internasional, serta prosiding ilmiah yang relevan dan terbit dalam sepuluh tahun terakhir. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan budaya berpikir, pembelajaran bermakna, serta implikasinya dalam praktik pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya berpikir berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis dan intelektual, meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), memperdalam pemahaman konseptual, menumbuhkan motivasi serta kemandirian belajar siswa, dan menguatkan peran guru sebagai fasilitator berpikir. Budaya berpikir mendorong siswa untuk aktif bertanya, berdiskusi, merefleksikan pemahaman, serta mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi bersifat hafalan, melainkan bermakna dan berorientasi pada pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan. Artikel ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pendidik dan peneliti dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang berpusat pada proses berpikir siswa.
Copyrights © 2026