Pandemi COVID-19 yang dimulai pada akhir 2019 telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan secara global, termasuk kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dalam upaya mengatasi pandemi ini, antibodi monoklonal menjadi salah satu solusi terapi yang terus dikembangkan karena kemampuannya yang spesifik dalam mengenali dan melawan antigen virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dua metode produksi antibodi monoklonal, yaitu teknologi hibridoma dan kromatografi protein A. Artikel yang relevan diambil dari database PubMed menggunakan kata kunci seperti COVID-19, hibridoma, antibodi monoklonal, dan kromatografi protein A. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa teknologi hibridoma memungkinkan produksi antibodi monoklonal dengan spesifisitas tinggi melalui penggabungan sel limfosit B dan sel mieloma. Teknik ini memiliki keunggulan seperti kemampuan produksi tanpa batas, efektivitas biaya, serta penyimpanan jangka panjang melalui kriopreservasi. Namun, metode ini membutuhkan waktu produksi yang lama dan persyaratan sterilitas yang tinggi. Di sisi lain, metode kromatografi protein A memanfaatkan resin protein A untuk menangkap imunoglobulin G, menghasilkan produk dengan kemurnian tinggi. Kelebihan metode ini meliputi sensitivitas tinggi terhadap kontaminasi, efisiensi waktu, dan biaya produksi yang lebih rendah. Namun, risiko pembentukan agregat antibodi akibat perubahan pH mendadak menjadi tantangan yang perlu diatasi. Secara keseluruhan, kromatografi protein A lebih efisien dan berpotensi menjadi metode standar produksi antibodi monoklonal berskala besar. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengatasi keterbatasan dalam membandingkan kedua metode secara langsung, terutama pada skala produksi massal. Dengan mengintegrasikan teknologi baru, pengembangan antibodi monoklonal dapat semakin mendukung upaya melawan pandemi dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi penyakit menular di masa depan.
Copyrights © 2025