Penelitian ini membahas makna filosofis Patung Baluntang bagi masyarakat Dayak Ma’anyan di Desa Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Patung ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya dan penghormatan kepada leluhur. Melalui upacara Mambuntang, patung ini menguatkan hubungan sosial dan spiritual dalam komunitas. Namun, pelestariannya menghadapi banyak tantangan, seperti modernisasi, pengaruh budaya asing, dan penurunan pelaksanaan upacara tradisional akibat pergeseran agama. Selain itu, pencurian patung juga menjadi masalah, menyebabkan jumlah dan pemahaman masyarakat tentang maknanya berkurang. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan mengumpulkan data melalui wawancara dengan anggota masyarakat dan observasi langsung. Hasil menunjukkan bahwa untuk memastikan Patung Baluntang tetap ada, perlu ada partisipasi aktif dari generasi muda dan dukungan dari pemerintah desa. Dengan edukasi dan kegiatan budaya, generasi muda dapat diajak untuk memahami pentingnya warisan budaya ini, sehingga Patung Baluntang tetap relevan dan dihargai di tengah perkembangan zaman.
Copyrights © 2025