Kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia dan masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan. Tingginya angka kejadian dan mortalitas kanker paru disebabkan oleh paparan faktor risiko yang kompleks serta keterlambatan diagnosis. Faktor risiko utama meliputi merokok aktif dan pasif, paparan polusi udara, zat karsinogen lingkungan dan pekerjaan, penggunaan bahan bakar biomassa, riwayat penyakit paru kronik, serta faktor genetik. Strategi skrining berbasis risiko menggunakan Low-Dose Computed Tomography (LDCT) telah terbukti secara global mampu menurunkan mortalitas kanker paru dan mulai diadopsi di Indonesia melalui konsensus profesional dan kebijakan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kanker paru serta mengevaluasi implementasi strategi skrining nasional di Indonesia berdasarkan bukti ilmiah lima tahun terakhir (2020–2025). Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka sistematis terhadap jurnal internasional, nasional, dan dokumen kebijakan. Jurnal ini meninjau literatur terbaru (2020–2025) mengenai faktor risiko dominan dan efektivitas skrining menggunakan Low-Dose Computed Tomography (LDCT) di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun merokok tetap menjadi faktor utama, faktor non-tradisional seperti pajanan biomassa dan polusi udara urban berkontribusi pada peningkatan kasus pada non-perokok. Implementasi skrining nasional menghadapi tantangan aksesibilitas alat, namun transformasi kesehatan digital memberikan harapan baru bagi deteksi dini.
Copyrights © 2026