Budaya organisasi memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku individu, khususnya dalam keberanian menyampaikan informasi yang bersifat kritis. Salah satu fenomena yang kerap muncul dalam organisasi adalah culture of silence, yaitu kondisi ketika individu secara sadar memilih untuk tidak mengungkapkan permasalahan, kesalahan, maupun potensi risiko yang diketahuinya. Dalam sektor pendidikan, fenomena ini menjadi isu serius karena dapat menghambat pelaporan risiko operasional yang seharusnya berfungsi sebagai mekanisme peringatan dini dalam sistem manajemen risiko. Pelaporan risiko operasional yang tidak berjalan secara optimal berpotensi menimbulkan inefisiensi administrasi, penurunan mutu layanan akademik, serta melemahnya tata kelola institusi pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual hubungan antara culture of silence dan pelaporan risiko operasional dalam organisasi pendidikan berdasarkan kajian literatur. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah jurnal ilmiah, buku akademik, serta dokumen kebijakan yang relevan dengan budaya organisasi, organizational silence, dan manajemen risiko operasional di sektor pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa struktur organisasi yang hierarkis, kepemimpinan yang kurang partisipatif, rendahnya psychological safety, serta lemahnya sistem pelaporan internal menjadi faktor utama yang memperkuat culture of silence dan menghambat pelaporan risiko operasional. Oleh karena itu, penguatan komitmen pimpinan, pengembangan komunikasi organisasi yang terbuka, serta penyediaan mekanisme pelaporan risiko yang aman dan transparan menjadi langkah strategis untuk meminimalkan dampak culture of silence dan memperkuat praktik manajemen risiko dalam organisasi pendidikan.
Copyrights © 2025