Sekolah menengah di Indonesia menghadapi tantangan fragmentasi sistem teknologi informasi, dimana Learning Management System (LMS) dan sistem administrasi akademik (seperti pengolahan nilai, kehadiran, dan keuangan) berjalan secara terpisah dan tidak terintegrasi. Kondisi ini menimbulkan inefisiensi operasional, duplikasi data, dan beban kerja ganda bagi guru dan tenaga administrasi, sehingga menghambat efektivitas proses pendidikan. Penelitian ini bertujuan merancang suatu arsitektur Hybrid Cloud yang memanfaatkan model layanan Infrastructure as a Service (IaaS) dan Platform as a Service (PaaS) untuk menciptakan sebuah platform terintegrasi yang menyatukan LMS dan sistem administrasi akademik. Perancangan arsitektur dilakukan dengan mengadopsi kerangka kerja Cloud Adoption Framework (CAF). Tahapan metodologi mencakup: (1)Analisis kebutuhan dan karakteristik beban kerja untuk menentukan penempatan optimal di public atau private cloud; (2) Pemilihan model layanan, di mana IaaS digunakan untuk komponen yang memerlukan kendali penuh dan keamanan tinggi (seperti database nilai dan data siswa), sementara PaaS dimanfaatkan untuk platform integrasi, API management, dan layanan analitik; serta (3) Perancangan arsitektur teknis yang mencakup hybrid connectivity, manajemen identitas terpusat, dan mekanisme sinkronisasi data real-time. Penelitian ini menghasilkan sebuah blueprint arsitektur Hybrid Cloud yang komprehensif. Analisis kelayakan menunjukkan bahwa arsitektur yang diusulkan berhasil mengonsolidasikan sistem yang terfragmentasi menjadi satu platform terpusat yang scalable dan aman. Dari aspek ekonomis, simulasi Total Cost of Ownership (TCO) selama 5 tahun memperkirakan penghematan biaya sebesar 35-40% dibandingkan pendekatan sistem terpisah dan on-premise, berkat pergeseran dari model biaya modal (CAPEX) ke model biaya operasional (OPEX) yang lebih efisien.
Copyrights © 2025