Proses penentuan arah kiblat yang tepat, serta menetapkan waktu sholat yang tepat dalam konteks geografis Indonesia, tidak semata-mata bergantung pada metodologi ilmiah yang berakar di bidang ilmu falak; melainkan, secara mendalam dibentuk dan sangat dipengaruhi oleh permadani kaya tradisi Islam dan praktik budaya yang telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat selama beberapa generasi. Dalam konteks khusus ini, perlu dicatat bahwa mahasiswa yang terdaftar di Universitas Negeri Islam (UIN) Walisongo Semarang, yang terkait erat dengan komunitas lokal yang terletak di Jawa Tengah, tidak hanya membawa warisan sejarah daerah mereka tetapi juga segudang nilai budaya yang secara signifikan menginformasikan dan membentuk perspektif mereka mengenai ketepatan orientasi kiblat dan waktu sholat dalam konteks lingkungan kampus mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai perasaan, keyakinan, dan keraguan mahasiswa tentang arah kiblat dan waktu salat, dengan meninjaunya dalam konteks sejarah penentuan kiblat di Nusantara serta praktik keagamaan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat historis-sosiologis. Teknik untuk mengumpulkan data meliputi studi literatur dari sumber-sumber baik klasik maupun modern, wawancara mendalam dengan mahasiswa dan tokoh agama setempat, serta pengamatan terhadap praktik keagamaan yang berlangsung di kampus. Temuan dari penelitian ini menunjukkan adanya interaksi yang kompleks antara keyakinan dan keraguan yang dialami oleh mahasiswa. Banyak di antara mereka cenderung mengandalkan informasi tentang arah kiblat dan waktu sholat yang ditetapkan berdasarkan tradisi ulama lokal, sejarah pendirian masjid-masjid tua di Jawa, serta hasil diskusi dalam masyarakat. Namun, ketidakpastian dan kekhawatiran yang signifikan muncul ketika seseorang dengan cermat menyandingkan tradisi lama itu dengan hasil yang berasal dari pengukuran kontemporer yang digerakkan oleh teknologi yang menjadi ciri bidang astronomi modern, yang telah maju secara signifikan dengan munculnya instrumen dan metodologi canggih. Praktik budaya lokal, termasuk tetapi tidak terbatas pada pertemuan komunitas yang bertujuan menentukan arah kiblat yang tepat, penerapan jadwal sholat yang dikuratori dan disebarluaskan dengan cermat oleh organisasi keagamaan yang diakui secara nasional, dan penghormatan mendalam yang diberikan kepada para pemimpin spiritual tradisional, telah memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan keyakinan kolektif di antara populasi siswa. Studi komprehensif ini menjelaskan gagasan bahwa penyelidikan seputar arah kiblat dan waktu sholat jauh melampaui pertimbangan teknis dan ilmiah belaka; itu juga sangat bersinggungan dengan berbagai dimensi epistemologis, sejarah, dan budaya yang merupakan bagian integral untuk memahami konteks yang lebih luas. Akibatnya, ia mengadopsi pendekatan multidisiplin yang secara efektif mengintegrasikan prinsip-prinsip ilmu falak, wawasan tak ternilai dari kearifan lokal, dan kemajuan teknologi modern, sehingga memfasilitasi munculnya pemahaman spiritual yang tidak hanya didasarkan secara ilmiah tetapi juga beresonansi dengan realitas kontekstual dan dapat diterima secara luas oleh masyarakat yang lebih besar.
Copyrights © 2025