Penelitian ini menganalisis manajemen risiko pada kasus longsornya kawasan Gedung Kuliah UIN III Imam Bonjol Padang pada tahun 2025, yang menyebabkan gangguan signifikan terhadap aktivitas akademik, kerusakan infrastruktur, serta potensi ancaman keselamatan bagi mahasiswa dan tenaga kependidikan. Kejadian longsor dipicu oleh kombinasi faktor geoteknik, curah hujan ekstrem, ketidaksesuaian tata kelola drainase, serta lemahnya pengawasan terhadap perubahan kontur tanah di area pembangunan. Latar belakang masalah menyoroti kurang optimalnya identifikasi risiko sejak tahap perencanaan kampus, minimnya evaluasi berkala terhadap stabilitas lereng, serta ketidaksiapan sistem mitigasi darurat yang berdampak pada meningkatnya risiko operasional institusi pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan data dari jurnal ilmiah, laporan kebencanaan BNPB, publikasi BMKG, berita nasional tahun 2025, serta kerangka teori ISO 31000:2018 mengenai proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan risiko. Analisis juga diperkuat dengan pendekatan FMEA untuk menilai tingkat keparahan dan kemungkinan kegagalan sistem proteksi lereng, serta Fault Tree Analysis (FTA) untuk memetakan akar penyebab longsor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko utama berasal dari kelemahan struktural pada sistem drainase, kurangnya pemantauan geoteknik, serta tidak adanya integrasi manajemen risiko ke dalam tata kelola pembangunan kampus. Kesenjangan antara risiko lingkungan dan risiko operasional memperburuk dampak longsor terhadap keberlanjutan proses akademik. Kesimpulan merekomendasikan perlunya penguatan governance risiko berbasis lingkungan, peningkatan sistem monitoring lereng secara real-time, audit konstruksi berkala, serta penyusunan SOP evakuasi dan mitigasi bencana untuk meningkatkan ketahanan kampus terhadap ancaman geologi di masa depan.
Copyrights © 2025