Penelitian ini mengkaji fenomena sosiolinguistik berupa alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing) dalam ruang digital, dengan fokus pada konten kreator TikTok dengan nama akun raflichaniag0. Fenomena "Ngapak Jaksel" menjadi unik karena mempertemukan dialek regional (Jawa Banyumasan) dengan bahasa urban (Jakarta Selatan/Inggris). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk alih kode dan campur kode serta menganalisis bagaimana praktik tersebut merepresentasikan identitas budaya hibrida di media sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode terjadi pada level kata, frasa, dan klausa, sementara alih kode digunakan untuk penekanan emosional dan humor (punchline). Penggunaan dialek Ngapak berfungsi sebagai penanda otentisitas dan keakraban (fungsi afektif), sedangkan istilah Jaksel/Inggris merupakan bentuk adaptasi terhadap tren global. Simpulan penelitian menegaskan bahwa praktik kebahasaan ini bukan sekadar kemampuan multibahasa, melainkan strategi komunikatif untuk membangun identitas "Ngapak Jaksel" yang adaptif, fleksibel, dan hibrid di era digital. Kehadiran bahasa daerah di platform global membuktikan bahwa identitas lokal tetap memiliki daya tawar yang kuat dalam membentuk persona digital yang relevan dan unik bagi audiens modern.
Copyrights © 2025