Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi digital leadership di lingkungan pesantren, khususnya dalam membedah bagaimana negosiasi otoritas karismatik Kiai berlangsung di tengah tuntutan transformasi budaya organisasi pada era disrupsi. Fokus utama kajian ini adalah memahami strategi kepemimpinan dalam menyelaraskan tradisi pesantren yang hierarkis dengan karakteristik teknologi digital yang demokratis dan transparan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus jamak di beberapa pesantren yang telah mengadopsi ekosistem digital. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap pengasuh dan manajer pesantren, observasi partisipatif terhadap pola komunikasi digital, serta analisis dokumen kebijakan lembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital leadership di pesantren bermanifestasi dalam bentuk kepemimpinan hibrida, di mana otoritas Kiai tetap menjadi poros utama namun mengalami renegosiasi melalui digitalisasi instruksi (e-dawuh) yang lebih terukur. Transformasi budaya organisasi terlihat pada pergeseran tata kelola dari sistem manual-sentralistik menuju manajemen berbasis data yang lebih akuntabel, yang secara efektif mereduksi hambatan birokrasi tradisional. Meskipun muncul kontroversi terkait pergeseran nilai sakralitas, solusi yang diambil adalah dengan memposisikan teknologi sebagai instrumen pendukung, bukan pengganti esensi spiritualitas. Kontribusi penelitian ini secara teoretis menawarkan model baru manajemen kepemimpinan Islam yang mampu mengintegrasikan aspek teosentris dengan kebutuhan teknosentris. Secara praktis, artikel ini menjadi rujukan strategis bagi pembuat kebijakan di pesantren dalam mengelola perubahan budaya organisasi agar tetap kompetitif tanpa kehilangan identitas aslinya di tengah arus disrupsi global
Copyrights © 2026