This article examines sustainable peacebuilding after religious conflict in Indonesia, emphasizing the importance of integrating the roles of youth, social innovation, and social reconciliation within a multidimensional peacebuilding framework. The background of this research stems from the reality that various religious conflicts in Indonesia have generally been successfully mitigated through political and security approaches. However, these efforts have not fully addressed the root of the social problems, leaving residues in the form of social segregation, intergroup distrust, and the development of narratives of intolerance at the grassroots level. This research aims to conceptually analyze how structural, relational, and cultural approaches to peacebuilding can be effectively operationalized through youth engagement and community-based social innovation. This article uses a qualitative approach with a critical literature review method of relevant academic sources, policy documents, and research reports. The analysis is enriched with illustrative case studies from the regions of Ternate, Aceh Singkil, and Tolikara that represent the dynamics of post-religious conflict in Indonesia. The analysis shows that youth have a strategic role as agents of social transformation, particularly in facilitating interfaith dialogue, producing peace narratives in public and digital spaces, and strengthening community social capital. Community-based social innovation has proven effective in bridging the limitations of formal state structures while simultaneously strengthening the relational and cultural dimensions of peacebuilding. This article concludes that sustainable peace after religious conflict can only be achieved through the simultaneous integration of inclusive structural policies, participatory social reconciliation, and cultural value transformation that actively and sustainably involves the younger generation. Abstrak Artikel ini mengkaji pembangunan perdamaian berkelanjutan pascakonflik keagamaan di Indonesia dengan menekankan pentingnya integrasi peran generasi muda, inovasi sosial, dan rekonsiliasi sosial dalam kerangka peacebuilding yang bersifat multidimensional. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas bahwa berbagai konflik keagamaan di Indonesia secara umum telah berhasil diredam melalui pendekatan politik dan keamanan. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan sosial, sehingga masih menyisakan residu berupa segregasi sosial, ketidakpercayaan antar kelompok, serta berkembangnya narasi intoleransi di tingkat masyarakat akar rumput. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara konseptual bagaimana pendekatan struktural, relasional, dan kultural dalam peacebuilding dapat dioperasionalkan secara efektif melalui keterlibatan generasi muda dan inovasi sosial berbasis komunitas. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur kritis terhadap sumber-sumber akademik, dokumen kebijakan, serta laporan penelitian yang relevan. Analisis tersebut diperkaya dengan studi kasus ilustratif dari wilayah Ternate, Aceh Singkil, dan Tolikara yang merepresentasikan dinamika pascakonflik keagamaan di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen transformasi sosial, khususnya dalam memfasilitasi dialog lintas iman, memproduksi narasi perdamaian di ruang publik dan digital, serta memperkuat modal sosial komunitas. Inovasi sosial berbasis partisipasi masyarakat terbukti mampu menjembatani keterbatasan struktur formal negara, sekaligus memperkuat dimensi relasional dan kultural dalam pembangunan perdamaian. Artikel ini menyimpulkan bahwa perdamaian berkelanjutan pascakonflik keagamaan hanya dapat terwujud melalui integrasi simultan antara kebijakan struktural yang inklusif, rekonsiliasi sosial yang partisipatif, dan transformasi nilai kultural yang melibatkan generasi muda secara aktif dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025