Penelitian ini mengkaji representasi makna kebebasan dan kematian dalam buku puisi Kertas Basah karya Dea Anugrah. Puisi sebagai bentuk sastra yang padat dan simbolik sering menjadi medium untuk mengekspresikan krisis eksistensial dan ketegangan sosial-politik. Dalam Kertas Basah, kebebasan digambarkan sebagai kondisi yang rapuh dan terkungkung, sementara kematian muncul sebagai motif yang merefleksikan keputusasaan, perlawanan, dan pencarian otonomi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pembacaan dekat (close reading). Analisis dilakukan melalui pendekatan struktural dan semiotik, khususnya teori semiotika puisi Michael Riffaterre serta perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan Martin Heidegger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebebasan dan kematian tidak diposisikan sebagai tema yang terpisah, melainkan saling berkaitan, di mana kematian sering dimaknai sebagai bentuk kebebasan terakhir ketika tekanan sosial, psikologis, dan politis tidak lagi tertahankan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian sastra Indonesia kontemporer, khususnya dalam memahami suara puitik dan kritik eksistensial Dea Anugrah.
Copyrights © 2025