Identifikasi korban tidak utuh menantang kedokteran forensik saat primary identifier seperti DNA tidak tersedia. Panjang telapak tangan berfungsi sebagai secondary identifier untuk estimasi tinggi badan. Tinjauan sistematis ini bertujuan mengevaluasi kinerja panjang telapak tangan dalam identifikasi sisa jenazah tidak utuh. Mengikuti PRISMA 2020, pendekatan kualitatif deskriptif mensintesis data dari 10 studi empiris populasi dewasa (n>3000) di Asia, Afrika, dan Australia, dipilih dari 114 records melalui PubMed, Google Scholar, dan OpenAlex. Protokol pencarian Boolean mengekstrak koefisien korelasi (r=0,55-0,75), model regresi, dan standard error of estimate (SEE ±4-6 cm). Sintesis naratif tematik menilai konsistensi dan variasi populasi-spesifik. Hasil menunjukkan korelasi linier positif signifikan antara panjang telapak tangan dan tinggi badan, dengan akurasi optimal menggunakan rumus populasi-spesifik dan combined hand length. Kesimpulannya, panjang telapak tangan terbukti reliabel sebagai secondary identifier untuk Disaster Victim Identification multidisipliner, meskipun terbatas desain cross-sectional dan celah regional.
Copyrights © 2026