Penelitian ini menganalisis konstruksi habitus keagamaan masyarakat Madura serta implikasinya terhadap sistem dan praktik pendidikan Islam. Dengan menggunakan kerangka teori Pierre Bourdieu, penelitian ini mengkaji bagaimana disposisi keagamaan yang terinternalisasi secara historis dan kultural (habitus) berfungsi sebagai modal budaya dan modal simbolik dalam mereproduksi struktur sosial dan pendidikan di Madura. Habitus keagamaan tersebut terbentuk melalui proses internalisasi nilai bhappa-bhabbhu-guru-rato yang menekankan kepatuhan hierarkis, penghormatan terhadap otoritas religius, serta dominasi peran Kyai dalam kehidupan sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Madura cenderung mempertahankan tradisionalisme pesantren sebagai identitas kultural, namun pada saat yang sama melakukan adaptasi selektif terhadap modernitas. Adaptasi ini dimediasi oleh Kyai sebagai pemegang modal simbolik tertinggi yang menentukan legitimasi inovasi pendidikan. Penelitian ini menegaskan bahwa dinamika pendidikan Islam di Madura tidak dapat dilepaskan dari konfigurasi habitus keagamaan yang berakar kuat dalam struktur sosial masyarakatnya.
Copyrights © 2024