Latar belakang: Pelecehan seksual beresiko terjadi dilingkungan sekolah dan belum banyak diungkapkan. Siswa maupun guru merasakan dampak dari pelecehan seksual secara psikologis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana siswa dan guru memaknai pelecehan seksual serta pengaruhnya terhadap kesejahteraan psikologis remaja di sekolah. Metode: Desain penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan partisipan 7 siswa kelas X-XI, usia 16-17 tahun dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Partisipan guru sebanyak 5 dengan kriteria minimal kerja 1 tahun dan pembina kegiatan siswa. Penelitian dilakukan di salah satu sekolah negeri menengah atas di kota Surakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semiāterstruktur dan catatan lapangan, kemudian dianalisis dengan membuat kategori, sub tema dan tema. Hasil analisis menghasilkan enam tema utama: (1)Dinamika remaja di era digitalisasi terhadap pelecehan seksual; (2) Media sosial sebagai ancaman laten dan budaya diam; (3) Faktor pendukung berbalik menjadi pondasi yang rapuh bagi remaja; (4) Guru sebagai gatekeeper dengan beban berlapis; (5) Religiusitas, Norma, dan Akhlak sebagai benteng protektif remaja; (6) Rapuhnya kontrol diri dan keluarga akibat normalisasi. Kesimpulan: Pencegahan pelecehan seksual dan promosi kesejahteraan psikologis memerlukan intervensi multilevel yang mengintegrasikan dengan kebijakan sekolah dan ramah korban. Pentingnya penguatan kapasitas guru, keterlibatan aktif keluarga, pendidikan seksualitas komprehensif yang sensitif budaya dan literasi digital yang memadai bagi remaja.
Copyrights © 2025