The rise of short-form video platforms has transformed how young people consume religious content shifting from in-depth study to bite-sized religious messages. This transformation presents both opportunities for religious outreach and ethical challenges for students as consumers and sharers of content. This paper provides a systematic literature review (SLR) of empirical and conceptual studies on Islamic digital ethics and the consumption of short religious content among students. Reviewing 5 key articles (2020–2025), the study identifies core themes: (1) accuracy and tabayyun (verification) of content, (2) oversimplification and decontextualization of scriptural texts, (3) performative religiosity, (4) privacy and dissemination of personal data, (5) polarisation and provocation risks, and (6) potential for digital religious education. While short videos increase religious interest and engagement, students often face interpretive confusion and vulnerability to unverified information. Recommendations include embedding Islamic digital ethics into curricula, tabayyun training, and partnerships between religious educators and content creators to enhance content integrity. These findings are relevant to educators, policy makers, and digital da'wah practitioners engaging Gen Z and younger audiences. ABSTRAK Perkembangan platform short-form video telah mengubah cara generasi muda mengakses konten keagamaan: dari kajian panjang ke potongan pesan singkat yang mudah disebarluaskan. Transformasi ini menghadirkan peluang dakwah dan pembelajaran agama yang lebih luas sekaligus menimbulkan tantangan etis bagi siswa sebagai konsumen dan penyebar konten. Artikel ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (SLR) terhadap studi-studi empiris dan konseptual mengenai etika digital Islami dan praktik konsumsi konten keagamaan singkat di kalangan pelajar. Dengan menelaah 15 artikel utama (2020–2025) yang relevan, artikel ini mengidentifikasi tema-tema utama: (1) akurasi dan tabayyun (verifikasi) konten, (2) simplifikasi teks-naqli dan kehilangan konteks/tafsir, (3) fenomena performativitas keagamaan (pamer ibadah), (4) privasi dan penyebaran data personal, (5) polarisasi & potensi provokasi, serta (6) peluang pendidikan religius digital. Hasil menunjukkan bahwa meski konten singkat efektif menarik perhatian dan meningkatkan minat beragama, banyak pelajar mengalami kebingungan interpretatif dan rentan menerima informasi yang belum terverifikasi. Artikel ini merekomendasikan integrasi pendidikan etika digital Islami dalam kurikulum, pelatihan tabayyun, dan kolaborasi antara pendidik agama dengan pembuat konten untuk memastikan kualitas pesan dakwah. Temuan ini penting bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan praktisi dakwah digital yang bekerja dengan generasi Z dan alfa.
Copyrights © 2025