Hidup perempuan pekerja sawit di Kabupaten Kampar menyimpan kisah yang kerap luput dari perhatian. Beban ganda, keterbatasan akses informasi, dan kondisi kerja yang penuh ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bentuk dukungan sosial yang dialami perempuan sawit, mengidentifikasi jaringan komunikasi yang menopang resiliensi mereka, serta memahami makna komunikasi dukungan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam dengan sembilan perempuan sawit serta observasi non-partisipatif pada aktivitas komunitas. Analisis tematik menunjukkan bahwa dukungan sosial tidak sekadar hadir dalam bentuk material, tenaga, atau emosional, tetapi juga mengandung dimensi makna yang lebih dalam. Dukungan material dipahami sebagai tanda kepercayaan, gotong royong di kebun menjadi sarana komunikasi yang memperkuat ikatan sosial, sementara doa dan semangat berfungsi sebagai komunikasi simbolik yang menumbuhkan harapan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jaringan komunikasi perempuan sawit sebagian besar berpusat pada keluarga inti dan kelompok sosial seperti arisan dan pengajian, dengan pemanfaatan media digital yang masih terbatas. Pola komunikasi ini menegaskan bahwa resiliensi perempuan sawit bukan semata persoalan ekonomi, melainkan hasil dari solidaritas yang dipelihara lewat percakapan sehari-hari. Temuan ini memperlihatkan bahwa komunikasi menjadi fondasi utama resiliensi berbasis gender di sektor perkebunan.
Copyrights © 2025