Artikel ini membahas pertunjukan solis contrabass melalui tiga repertoar lintas genre, yaitu Sonata in G Minor karya Henry Eccles, Zapin Muara karya Dzul Rabbul, dan The Godfather karya Nino Rota. Pertunjukan ini bertujuan mengeksplorasi tantangan teknis dan interpretatif permainan contrabass sebagai instrumen solis dalam konteks musik Barok, tradisi Melayu, dan musik film modern. Pendekatan yang digunakan adalah praktik artistik berbasis penelitian (practice-based research), meliputi pemilihan repertoar, analisis teknis musikal, serta proses latihan individu dan ansambel. Hasil pertunjukan menunjukkan bahwa contrabass memiliki fleksibilitas teknis dan ekspresif yang memungkinkan adaptasi karakter musikal dari berbagai gaya. Repertoar Barok menuntut penguasaan ornamentasi dan artikulasi, Zapin Muara menekankan adaptasi idiom musikal Melayu pada register tinggi, sementara The Godfather menguji kemampuan interpretasi lintas gaya antara musik klasik dan populer. Selain itu, pertunjukan ini memperlihatkan peran penting aransemen dan pemilihan pendekatan interpretatif dalam memperluas fungsi contrabass sebagai instrumen solis. Pertunjukan ini berkontribusi pada pengayaan wacana akademik mengenai pertunjukan solis contrabass di lingkungan pendidikan seni musik Indonesia
Copyrights © 2025