Kesadaran diri (self-awareness) merupakan fondasi penting dalam pengembangan pribadi, sosial, dan emosional remaja. Individu dengan tingkat kesadaran diri yang baik cenderung mampu mengelola emosi, membangun relasi positif, dan mengambil keputusan yang tepat. Namun, di kalangan remaja Indonesia, pengembangan self-awareness masih kurang mendapat perhatian, sehingga diperlukan model pembelajaran yang mendorong refleksi diri dan pengelolaan emosi secara konstruktif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan self-awareness dan kecerdasan emosional remaja melalui pendekatan reflective learning di TPA Masjid Fathul Bayan, Yogyakarta. Metode pelaksanaan menggunakan lima pos pembelajaran reflektif, yaitu pengenalan minat, penampilan keterampilan individu, pembuatan konten inspiratif, refleksi pengalaman belajar, dan diskusi tantangan pribadi. Kegiatan diikuti oleh 21 peserta berusia 7–13 tahun selama enam jam dalam format rotasi kelompok. Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi aktif dari 68% menjadi 92% serta peningkatan kepercayaan diri, empati, dan kemampuan mengenali emosi diri. Peserta juga menunjukkan kemampuan mendeskripsikan pengalaman (reporting), menanggapi secara emosional (responding), mengaitkan pengalaman dengan nilai (relating), menalar secara logis (reasoning), dan merencanakan perbaikan diri (reconstructing). Temuan ini menunjukkan bahwa reflective learning efektif diterapkan di lingkungan pendidikan nonformal untuk menumbuhkan kesadaran diri dan kecerdasan emosional remaja.
Copyrights © 2026