Cendana merupakan salah satu spesies endemik di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini dikarenakan cendana yang dapat tumbuh secara alami di daerah beriklim kering seperti NTT. Cendana merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena kandungan minyak atsiri yang terdapat pada kayu terasnya. Eksploitasi besar-besaran tanpa diikuti penanaman kembali mengakibatkan cendana masuk kategori rentan terhadap kepunahan menurut IUCN dan kategori rawan yang beresiko kepunahan menurut CITES. Cendana kemudian dibudidayakan kembali dengan tujuan pelestarian. Adapun beberapa hambatan dalam teknik budidaya tanaman cendana, salah satunya serangan hama. Serangan hama mengakibatkan kerugian dari segi ekonomis dan fisiologis. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis hama yang menyerang tanaman cendana serta pola sebarannya, yang kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menetapkan strategi pengendalian hama yang efektif dan jangka panjang. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi jenis-jenis hama yang ditemukan menggunakan mikroskop dan referensi pendukung kemudian menganalisis pola sebarannya menggunakan indeks morisita terstandar. Hama yang ditemukan berjumlah 4 jenis. Hama ini menyerang batang dan daun cendana yakni: rayap (Nasutitermes sp.), bekicot (Achatina fulica), kutu putih (Ferrisia virgata), dan ulat bulu (Arctornis sp.). Kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama-hama ini adalah batang berlubang, daun berbintil kuning, daun mengeriting, batang rapuh, batang mengering, dan daun gugur. Pola sebaran yang dimiliki oleh keempat jenis hama ini berdasarkan hasil analisis menggunakan indeks morisita menunjukkan pola sebaran mengelompok karena nilai derajat morisitanya lebih besar dari 0 dengan rincian sebagai berikut: rayap bernilai 1, kutu putih bernilai 0,05, bekicot bernilai 0,01, dan ulat bulu bernilai 1. Beberapa faktor yang mempengaruhi pola sebaran mengelompok pada hama-hama tersebut adalah ketersediaan makanan, heterogenitas habitat, perlindungan diri, dan faktor intrinsik tanaman inang.
Copyrights © 2025